Translate

Wednesday, January 28, 2015

Desa Donosari, Sruweng, Kebumen

Desa Donosari, Sruweng, Kebumen
Desa Donosari, Kecamatan Sruweng, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah
Desa Donosari merupakan salah satu desa di kecamatan Sruweng, Kabupaten Kebumen. Berlokasi di sebelah barat laut dari Kabupaten Kebumen, desa Donosari memiliki bentang alam berupa dataran rendah dan tinggi atau perbukitan. Desa ini juga dilalui oleh dua sungai atau lebih tepatnya disebut dengan kali mengingat ukuran lebarnya yang sempit, dimana salah satunya berbatasan langsung dengan desa Penusupan. Sedangkan kali lainnya berhulu dari desa Donosari sendiri. Di kali tersebut bisa ditemukan binatang-binatang penghuni sungai seperti ikan, udang dan kepiting. Ikan-ikan yang hidup di sungai tersebut memang berukuran kecil seperti ikan bogo, wader, lele dan jodhog. Udang dan kepiting yang hidup di ekosistem ini sama halnya dengan udang dan kepiting yang hidup di kali lainnya yang memiliki ukuran kecil. Tidak hanya itu dahulu juga sering ditemui ikan sidat atau biasa disebut dengan ikan pelus yang hidup di kali tersebut, tetapi sekarang langka untuk ditemukan. Selain itu juga Desa Donosari ini berbatasan langsung dengan Desa Karangjambu di sebelah selatan yang membentang ke arah barat, Desa Penusupan dan Desa Pandansari di sebelah timur. Desa Donosari ini memiliki penduduk dengan mayoritas bekerja sebagai petani dan buruh mengingat belum berkembangnya desa ini. Sehingga tidak jarang banyak penduduk yang mengadu nasib ke kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya.
Fasilitas pendidikan di desa ini memang masih kurang memadai, hal ini dapat dilihat dari keadaan di mana desa ini hanya memiliki dua Taman Kanak-Kanak dan dua Sekolah Dasar, meskipun demikian semangat untuk memperoleh pendidikan dengan belajar tidak akan surut di dalam masyarakat desa ini. 


Pembangunan penunjang kegiatan ekonomi seperti fasilitas jalan memang sudah dilakukan, akan tetapi masih ada beberapa masalah berupa jalan yang tidak rata atau berlubang akibat faktor alam.
Desa Donosari berpenduduk dan berketurunan dari suku Jawa yang memiliki logat khas yaitu Ngapak. Selain itu, penduduk Desa Donosari mayoritas beragama Islam dan juga masih menjunjung adat istiadat Jawa sehingga tidak jarang ditemukan acara syukuran di bulan-bulan tertentu. Desa Donosari memiliki komoditas berupa jenitri dan cengkeh yang biasanya dihasilkan dari lading-ladang masyarakatnya.

Desa Donosari ini memiliki tempat viewer yang bisa untuk melihat pemandangan alam sekitar desa ini. Salah satu tempat viewer biasanya disebut oleh penduduk sekitar dengan gunung sari, meskipun sebenarnya lebih tepatnya disebut sebagai bukit, mengingat tempat ini berupa gundukan tanah yang menjulang tinggi ke atas dan lebih tinggi dibandingkan dengan daerah  disekelilingnya. Di Bukit Sari ini juga terdapat maqam atau lebih tepatnya tanda petilasan para leluhur dan penyebar agama Islam di desa ini. Bahkan petilasan ini sering dikunjungi pada acara tertentu seperti menjelang bulan Ramadan atau acara sunatan. Kegiatan berziarah ini juga mengingatkan kita agar tetap menghargai jasa beliau-beliau yang menyebarkan agama Islam dan yang terpenting mengingatkan juga bahwa kita kelak akan mati. Jadi Bukit Sari ini cukup sakral di desa Donosari terutama untuk masyarakat di dukuh Sodong dan Sodong Pingit. Tidak jarang pada waktu-waktu tertentu diadakan pembersihan jalan setapak menuju lokasi maqam ini. Bahkan dulu bukit ini dihuni oleh binatang berupa kera ekor panjang yang hidup secara bebas di alam bukit ini. Akan tetapi justru sekarang sudah kera ekor panjang tersebut sudah berpindah tempat atau migrasi ke tempat lain. Penyebabnya mungkin karena faktor alam, di mana persediaan makanan bagi mereka sudah menipis di bukit ini. Tempat viewer kedua yaitu wunut yang bisa melihat pemandangan alam sekitar seperti bukit sari dan lalu lintas kendaraan seperti kereta api, meskipun terlihat sayup-sayup mengingat jaraknya yang jauh.