Translate

Monday, December 1, 2014

Konflik Partai Golkar dan Survei Kinerja Partai Golkar (Golongan Karya)

Konflik di Kubu Partai Golkar dan Bagaimana Kinerja Partai Golkar?


Dukung Jokowi dalam Person of The Year by Majalah TIME Person of The Year 2014

Pengalaman setengah abad di panggung politik menjadi kekuatan dan kelebihan Partai Golkar selama ini. Polemik yang terjadi menjelang Musyawarah Nasional IX Golkar di Bali yang dibuka semalam dikhawatirkan akan melahirkan perpecahan. Namun, publik yakin akar beringin belum akan tergoyahkan karena ditopang loyalitas pemilih dan jaringan partai yang luas. Kesimpulan ini muncul dari hasil jajak pendapat Kompas, pekan lalu, untuk merespons gejolak yang terjadi di tubuh Golkar. Sebanyak 66 persen responden khawatir konflik yang lahir menjelang munas tersebut akan melahirkan perpecahan partai. Kekhawatiran ini muncul mengingat sebelumnya ada dua arus yang menghendaki sikap politik yang berbeda dari partai ini.

Dua arus itu adalah Golkar tetap berada di Koalisi Merah Putih (KMP) sebagai kekuatan penyeimbang pemerintah atau beralih bergabung ke Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yang menjadi penyokong pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Persoalan lain terkait pencalonan kembali Aburizal Bakrie sebagai Ketua Umum Golkar. Peran oposisi. Tentang keberadaan Golkar di KMP, pendapat responden terbelah. Separuh lebih responden (53,3 persen) setuju dengan sikap Golkar bergabung di KMP. Namun, tidak sedikit yang menyatakan sebaliknya (44,9 persen). Pihak yang setuju melihat peran oposisi sama terhormatnya dengan peran pendukung pemerintah. Sementara itu, bagi yang kontra memandang peran oposisi akan merugikan citra Golkar, apalagi sepanjang lebih dari tiga dekade, Golkar berperan sebagai partai pendukung pemerintah.

Jika sikap responden dibelah berdasarkan pilihan partainya pada pemilu, ada kecenderungan pola sikap responden mengikuti pilihan partai politiknya. Responden pemilih partai politik yang sekarang bergabung dalam KMP cenderung menyetujui Golkar berada dalam koalisi ini. Sementara responden pemilih partai politik yang tergabung dalam KIH berpendapat sebaliknya. Dari kelompok responden pemilih Golkar, misalnya, tiga dari empat responden sepakat jika partai ini bergabung dalam KMP. Hal sama ditemukan pada kelompok responden pemilih Gerindra, sebagian besar pemilihnya setuju jika Golkar menjadi penyeimbang pemerintah. Sebaliknya, separuh lebih responden dari kelompok pemilih PDI-P dan Nasdem yang tergabung dalam KIH tidak setuju Golkar menjadi partai oposisi.

Menariknya, penyikapan soal arah baru Golkar pada munas, khususnya yang digelar 30 November-4 Desember 2014 di Bali, diyakini tidak akan banyak mengubah haluan politik Golkar. Baik responden pemilih partai politik anggota KMP maupun KIH cenderung masih meyakini Golkar tidak akan beralih kongsi politik di parlemen. Kinerja Golkar. Terlepas dari sikap tentang keberadaan Golkar di KMP, penilaian publik pada kinerja Partai Golkar masih jauh dari harapan. Separuh lebih responden menilai kinerja partai ini terkait fungsi-fungsi kepartaian belum memuaskan. Demikian pula penilaian terhadap kepemimpinan Aburizal Bakrie yang selama ini dipandang tidak memuaskan.

Dukung Jokowi dalam Person of The Year by Majalah TIME Person of The Year 2014

Ketidakpuasan ini terkait dengan kinerja Partai Golkar di bawah kendali Aburizal Bakrie yang dinilai tidak lebih baik dibandingkan periode sebelumnya. Salah satu indikatornya adalah kegagalan Partai Golkar dalam Pemilu dan Pemilu Presiden 2014. Meski perolehan suara Golkar cenderung stabil (berkisar 14 persen), perolehan kursi di DPR menurun. Jika pada Pemilu 2009 Golkar merebut 106 kursi DPR, pada Pemilu 2014 kursi yang diraih hanya 91. Hal sama terjadi dalam pilpres. Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie yang menjadi tokoh politik pertama yang mendeklarasikan diri sebagai capres menjelang 2014, gagal maju menjadi calon presiden atau wakil presiden. Pilihan politik Golkar yang lalu mendukung Prabowo Subianto pun dinilai gagal karena kalah. Kegagalan ini yang membuat Aburizal cenderung ditolak maju kembali sebagai ketua umum.
Dengan demikian, wajar jika persepsi publik terhadap rencana Aburizal maju kembali sebagai ketua umum cenderung negatif. Sebanyak 62,4 persen responden tidak setuju jika Aburizal maju kembali sebagai pemimpin ”Partai Beringin”. Jika ditelusuri dari latar pilihan partai politik, dukungan Aburizal banyak diberikan oleh responden pemilih Golkar. Sebaliknya, responden pemilih partai politik lain cenderung menolak. Bahkan, responden pemilih Partai Keadilan Sejahtera, yang notabene menjadi satu kubu dengan Golkar di KMP, lebih banyak yang menolak Aburizal maju kembali sebagai ketua umum. Modal politik. Menariknya, betapapun muncul penolakan publik terhadap sosok Aburizal, Golkar masih memiliki modal politik yang besar, yakni jaringan luas dan dukungan pemilih yang relatif loyal. Setidaknya 72,7 persen dari responden pemilih Golkar mengaku akan tetap memilih partai ini meski Aburizal terpilih kembali sebagai Ketua Umum Golkar. Sikap serupa akan diambil responden jika munas memutuskan Golkar tetap dalam barisan KMP.

Loyalitas ini juga ditopang jaringan partai yang cukup luas. Hasil survei Kompas pra-Pemilu 2014 mencatat, pendukung terbesar Golkar adalah pemilih yang tinggal di pedesaan. Golkar relatif mampu mempertahankan basis dukungannya di luar Jawa dalam dua pemilu terakhir. Dibandingkan Pemilu 2009, pada Pemilu 2014 Golkar memperoleh peningkatan dukungan dari pemilih di perkotaan dan Pulau Jawa. Pengalaman berpolitik selama 50 tahun juga menjadi modal besar bagi Golkar untuk mampu bertahan di panggung politik nasional. Hal ini diakui separuh lebih responden dalam jajak pendapat. Sebaliknya, responden menilai hal yang menjadi kelemahan partai ini adalah adanya anggapan tentang Golkar sebagai partai warisan Orde Baru.


Meski konflik internal bukan hal baru bagi Golkar, kisruh menjelang munas harus diakui sebagai ujian politik bagi soliditas partai. Sejarah telah merekam bagaimana kemampuan partai ini dalam menyelesaikan konflik, khususnya yang melahirkan partai-partai politik baru yang didirikan tokoh Golkar setelah gagal dalam kontestasi politik di internal Golkar. Namun, sejarah juga mencatat partai ini mampu bertahan. Akbar Tandjung, mantan Ketua Umum Partai Golkar, dalam bukunya, Golkar Way, mencatat salah satu hal yang membuat Golkar bertahan menghadapi gelombang politik. Kemampuan Golkar mendayagunakan kelembagaan yang mengakar kuat dan secara bersamaan melakukan penyesuaian terhadap lingkungan yang berubah membantu Golkar bertahan. Tentu saja konflik kali ini kembali menguji apakah akar beringin masih kuat menopang atau lapuk diterjang konflik kepentingan. (Yohan Wahyu/LITBANG KOMPAS)
Dukung Jokowi dalam Person of The Year by Majalah TIME Person of The Year 2014

No comments:

Post a Comment